Tingkatkan Anggaran Pertanian 2025, Bupati Fawait Targetkan Jember Sebagai Lumbung Pangan Nasional

Pemkab Jember di bawah kepemimpinan Bupati Gus Fawait menetapkan visi ambisius untuk menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan nasional. Dengan langkah konkret, Bupati Fawait berkomitmen untuk meningkatkan anggaran pertanian pada tahun 2025, sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan ketahanan pangan di wilayah ini.
Komitmen untuk Meningkatkan Sektor Pertanian
Dalam rangka mendukung program Bunga Desaku, Bupati Gus Fawait melanjutkan serangkaian kegiatan di Kecamatan Mumbulsari. Pada kesempatan ini, bupati bertemu dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta para tokoh tani setempat untuk mendengarkan aspirasi dan kebutuhan mereka.
Dalam sesi wawancara, Bupati Fawait menegaskan komitmennya untuk memajukan sektor pertanian sebagai landasan utama ekonomi daerah. Ia mengungkapkan bahwa langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, yang menginginkan Jember tidak hanya menjadi lumbung pangan di tingkat provinsi, tetapi juga di tingkat nasional.
Target Anggaran Pertanian yang Ambisius
Bupati Fawait menjelaskan bahwa anggaran untuk sektor pertanian pada tahun 2025 akan menjadi yang terbesar dalam sejarah Kabupaten Jember. Peningkatan anggaran ini merupakan hasil sinergi antara Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kami berupaya menjadikan anggaran ini sebagai yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir,” ujarnya.
Dengan alokasi anggaran yang mencapai sekitar Rp 149 miliar, Bupati Fawait yakin bahwa langkah ini akan memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan para petani. “Ini adalah bukti nyata dari keseriusan pemerintah dalam memperhatikan sektor pertanian,” tambahnya.
Program Unggulan untuk Pertanian Berkelanjutan
Gus Fawait menjelaskan bahwa sejumlah program akan diluncurkan untuk mendukung peningkatan anggaran pertanian ini. Salah satunya adalah program Optimalisasi Lahan (Oplah), yang direncanakan untuk meningkatkan luas lahan dari 5.000 hektare menjadi 8.000 hektare. Program ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan.
Namun, tantangan yang dihadapi cukup besar. Sekitar 70 persen dari total lahan yang direncanakan masih dalam kondisi rusak dan memerlukan perlakuan khusus agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Kami menyadari bahwa perbaikan lahan adalah langkah krusial untuk mencapai tujuan kami,” ungkapnya.
Prioritas dalam Alokasi Anggaran
Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah berkomitmen untuk memastikan bahwa pengadaan alat dan mesin pertanian serta pompa air menjadi prioritas utama. “Kami percaya bahwa peningkatan akses terhadap alat pertanian akan berdampak langsung pada produktivitas petani,” jelas Gus Fawait.
- Pengadaan alat mesin pertanian
- Pembangunan infrastruktur irigasi
- Peningkatan akses terhadap pupuk subsidi
- Program pelatihan untuk petani
- Pengembangan pasar lokal untuk hasil pertanian
Lebih lanjut, mantan bendahara DPD Gerindra Jatim ini juga menekankan pentingnya kemandirian kelompok tani dalam produksi pupuk organik. “Kami ingin mendorong mereka agar dapat menghasilkan pupuk sendiri, sehingga dapat menambah nilai ekonomi bagi kelompok tani,” tuturnya.
Peran Masyarakat dalam Program Pertanian
Pemerintah kabupaten juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan distribusi pupuk subsidi. Gus Fawait menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan distribusi yang tepat sasaran, sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi. “Kami ingin melibatkan masyarakat dalam setiap langkah program pertanian ini untuk memastikan pelaksanaannya berjalan dengan baik,” imbuhnya.
Gus Fawait menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah Kabupaten Jember terhadap petani. “Kami tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi langsung mengimplementasikan program-program yang konkret untuk kesejahteraan petani,” tambahnya.
Prioritas Program Oplah
Ditegaskan oleh Gus Fawait, program Oplah menjadi prioritas utama dibandingkan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) saat ini. Ia berpendapat bahwa Oplah akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan hasil pertanian. “Jika produktivitas meningkat, maka frekuensi panen juga dapat ditingkatkan dari satu kali menjadi dua atau tiga kali dalam setahun,” paparnya.
“Jika tidak ada hasil panen, apa yang mau diangkut melalui jalan tani? Oleh karena itu, kami lebih memilih untuk fokus pada Oplah terlebih dahulu sebelum pembangunan infrastruktur lainnya,” tegasnya.
Mendorong Kemandirian Produksi Pupuk
Gus Fawait juga mengajak kelompok tani untuk mulai mandiri dalam memproduksi pupuk organik. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan dukungan dan ruang bagi mereka agar dapat mengembangkan produksi pupuk organik sebagai tambahan pendapatan. “Kami ingin memastikan bahwa kelompok tani dapat berdaya dan mandiri,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa Pemkab tidak akan terjun langsung ke dalam bisnis produksi pupuk organik agar tidak bersaing dengan masyarakat. “Kami akan fokus pada pengawasan dan memastikan bahwa distribusi pupuk subsidi tepat sasaran sesuai kebutuhan petani di lapangan,” tambahnya.
Partisipasi Masyarakat dalam Program Pertanian
Gus Fawait juga mengingatkan bahwa dampak dari pembangunan infrastruktur pertanian mungkin memerlukan waktu. Oleh karena itu, ia meminta agar seluruh lapisan masyarakat berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan program di lapangan. “Kami sangat membutuhkan partisipasi masyarakat untuk mengawasi dan memastikan bahwa program ini berjalan dengan baik,” pintanya.
“Kami telah memberikan amanah kepada kelompok-kelompok tani, dan kami berharap niat baik ini dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar hasilnya optimal bagi kesejahteraan Jember,” pungkasnya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan anggaran pertanian 2025 dapat membawa perubahan signifikan bagi sektor pertanian di Jember, serta menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan nasional yang diharapkan.
