Beton Jalan Sadik–Simangu Kota Serang Senilai Rp2,3 Miliar Retak di 22 Titik, Apa Penyebabnya?

Proyek rekonstruksi Jalan Sadik–Simangu di Kelurahan Pageragung, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten, kini menjadi perhatian publik setelah terungkap adanya kerusakan serius pada struktur beton yang baru saja selesai dikerjakan. Dengan anggaran mencapai hampir Rp2,4 miliar yang bersumber dari APBD Kota Serang Tahun Anggaran 2026, jalan ini dilaporkan mengalami keretakan dan patahan di setidaknya 22 titik, menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai kualitas pengerjaan dan pengawasan yang dilakukan.
Kerusakan Konstruksi: Tanda Tanya Besar di Proyek Jalan
Temuan kerusakan ini mengundang sorotan terkait mutu material yang digunakan, prosedur kerja, dan efektivitas pengawasan yang seharusnya dilakukan secara ketat. Proyek ini, yang berada di bawah pengawasan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Serang, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat akan kualitas infrastruktur yang dibangun dengan dana rakyat.
Investigasi Awal dan Temuan di Lapangan
Tim investigasi yang melakukan pemantauan di lokasi pada tanggal 31 Mei 2026 menemukan sejumlah bagian dari beton jalan mengalami keretakan yang cukup signifikan. Meskipun pekerjaan baru saja selesai, kerusakan tersebut terlihat jelas. Yang lebih memprihatinkan, perbaikan yang dilakukan tidak mengikuti metode teknis yang seharusnya, melainkan hanya ditambal dengan campuran aspal dan semen, yang dinilai sebagai solusi sementara dan tidak memadai.
- Kerusakan ditemukan di 22 titik
- Perbaikan dilakukan dengan cara tidak sesuai
- Potensi kerugian keuangan daerah
- Pengawasan proyek yang dipertanyakan
- Kualitas material dan prosedur yang perlu dievaluasi
Pengawasan dan Tanggung Jawab dalam Proyek
Proyek ini dikerjakan oleh CV Karaton Mega Karya, dengan nilai kontrak mencapai Rp2.398.760.000, sementara pengawasan ditangani oleh CV Tri Karya Konsultan. Namun, munculnya retakan dalam waktu singkat setelah penyelesaian pekerjaan menunjukkan adanya masalah yang serius. Kualitas material, komposisi campuran, proses pengecoran, dan masa perawatan (curing) adalah faktor kunci yang berpengaruh terhadap kekuatan dan daya tahan jalan.
Persepsi Publik dan Kekhawatiran Masyarakat
“Jika pekerjaan baru selesai tetapi sudah menunjukkan kerusakan di banyak titik, tentu publik berhak mempertanyakan apakah semua tahap telah dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis,” ungkap salah seorang warga yang melintas di lokasi proyek. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat akan potensi kerugian finansial yang bisa ditanggung oleh daerah.
Dengan anggaran yang mencapai miliaran rupiah, infrastruktur yang dihasilkan seharusnya berkualitas tinggi dan tahan lama, bukan justru menimbulkan keraguan tentang daya tahannya sejak awal penggunaannya. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai efektivitas pengawasan yang dilakukan oleh konsultan dan instansi terkait selama proyek berlangsung.
Pentingnya Audit dan Evaluasi Kualitas
Adanya temuan keretakan dan patahan di 22 titik ini menjadi tantangan bagi fungsi pengawasan proyek. Ini menimbulkan pertanyaan seberapa baik proses monitoring yang dilakukan oleh konsultan pengawas dan pengendalian mutu oleh instansi pemerintah. Publik menuntut transparansi dan kejelasan mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi masalah ini.
Respons Pihak Terkait
Sampai berita ini diturunkan, pihak Dinas PUPR Kota Serang, CV Karaton Mega Karya, dan CV Tri Karya Konsultan belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab keretakan dan langkah penanganan yang akan dilakukan. Upaya konfirmasi terus dilakukan untuk mendapatkan informasi yang seimbang dari semua pihak yang terlibat dalam proyek ini.
Harapan Masyarakat dan Tanggung Jawab Pemerintah
Masyarakat mengharapkan Pemerintah Kota Serang tidak mengabaikan temuan ini. Evaluasi menyeluruh, audit teknis, dan pengujian mutu konstruksi dianggap perlu untuk memastikan bahwa kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam kontrak. Setiap rupiah yang berasal dari APBD harus dipertanggungjawabkan kepada publik.
Infrastruktur yang dibangun dengan dana rakyat seharusnya memberikan manfaat yang berkelanjutan dan bukan hanya menjadi sumber pertanyaan tentang kualitas sejak hari pertama digunakan. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas dan transparan mengenai penggunaan anggaran publik.
Melihat situasi ini, penting bagi semua pihak yang terlibat dalam proyek Jalan Sadik–Simangu untuk bekerja sama dalam menemukan solusi yang tepat. Hanya dengan langkah preventif dan evaluasi yang akurat, kepercayaan masyarakat terhadap proyek infrastruktur dapat terjaga dan kualitas jalan dapat ditingkatkan untuk jangka panjang.
