ASEAN Dengue Day 2026: Dinkes Tangsel Ungkap Strategi Zero Death DBD Sejak 2023

ASEAN Dengue Day (ADD) yang diperingati setiap tanggal 15 Juni menjadi momentum penting bagi upaya penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di kawasan Asia Tenggara. Pada tahun 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyelenggarakan Temu Media ADD secara daring yang menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, MKM, sebagai narasumber utama. Acara ini mengusung tema “Nol Kematian Akibat Dengue 2030”, menggarisbawahi komitmen semua pihak untuk mencapai target zero death DBD.
Strategi Penanggulangan DBD di Tangerang Selatan
Dalam forum yang dilakukan melalui platform Zoom tersebut, dr. Allin memaparkan berbagai praktik baik dalam penanggulangan DBD yang dilakukan di Kota Tangerang Selatan. Salah satu fokus utama yang disampaikan adalah komitmen dalam mendukung program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yang merupakan bagian dari inisiatif Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Program yang dimulai sejak tahun 2016 ini telah menunjukkan hasil yang positif, terutama di daerah-daerah seperti Benda Baru, Pamulang, dan Pamulang Timur, dengan penurunan angka kasus yang cukup signifikan.
Walaupun sempat terhenti selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19 dari tahun 2020 hingga 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangerang Selatan segera merumuskan roadmap baru untuk periode 2024-2030. Upaya ini membuahkan hasil dengan tercapainya status nol kematian akibat DBD sejak tahun 2023 hingga Juni 2026.
Peran Semua Pihak dalam Keberhasilan Zero Death
“Keberhasilan dalam mempertahankan status zero death ini merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak, termasuk masyarakat di tingkat kewilayahan. Kami berharap pencapaian ini dapat terus dipertahankan di masa mendatang,” ungkap dr. Allin dengan tegas.
Tiga Pilar Utama dalam Penanggulangan DBD
Dr. Allin menggarisbawahi bahwa penanggulangan DBD di Tangerang Selatan didasarkan pada tiga pilar kebijakan utama: pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan teknologi, dan pengawasan terpadu. Masyarakat diharapkan aktif terlibat dalam upaya pencegahan, sementara teknologi digunakan untuk mendukung pelaksanaan program-program kesehatan.
Realitas di Lapangan: RW Bebas Jentik
Hingga data terakhir pada 10 Juni 2026, realisasi wilayah RW bebas jentik di Kota Tangerang Selatan mencapai angka 57,20%. Angka ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dan hampir memenuhi target tahunan sebesar 60% untuk tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, berbagai strategi kunci telah diterapkan.
- Kemandirian anggaran kewilayahan: Penganggaran program G1R1J tidak hanya mengandalkan Dinkes, tetapi juga melibatkan forum Musrenbang yang memotivasi masyarakat untuk membiayai kegiatan lapangan secara mandiri.
- Pemantauan berlapis: Pemeriksaan jentik secara mendadak dilakukan setiap tiga bulan oleh Pokjanal DBD Kota untuk memastikan Angka Bebas Jentik (ABJ) di RW yang tersertifikasi tetap di atas 95%.
- Kolaborasi perbatasan: Tangerang Selatan menjaga kerja sama dalam penanganan kesehatan dengan Kota Administrasi Jakarta Selatan sejak tahun 2019 untuk memastikan tidak ada area yang terlewat dalam pengawasan.
Sukses di Beberapa Kelurahan
Hasil dari pemantauan melalui silent survey menunjukkan bahwa Kelurahan Benda Baru, Pamulang Timur, dan Bambu Apus berhasil mempertahankan ABJ di atas 95%. Dengan pembagian zona yang jelas antara daerah fokus dan daerah pemeliharaan, Dinkes Tangerang Selatan optimis bahwa target Kecamatan Bebas Jentik pada tahun 2030 akan tercapai secara berkelanjutan.
Kesadaran Individu dalam Penanggulangan DBD
Sebagai penutup, dr. Allin mengingatkan pentingnya kesadaran individu dengan mengusung tagline: “Jangan bilang peduli DBD kalau belum melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di rumah sendiri.” Ini adalah panggilan untuk setiap individu agar berperan aktif dalam mencegah penyebaran DBD, yang sekaligus mendukung upaya pemerintah untuk mencapai zero death DBD.
Dengan berbagai strategi dan kolaborasi yang telah dilakukan, Kota Tangerang Selatan menjadi contoh nyata bahwa dengan komitmen yang kuat dan partisipasi masyarakat, target zero death DBD bukanlah hal yang mustahil. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan yang sama.
