Kemendagri Mendorong Peningkatan Kualitas Perencanaan RKPD 2027 di Jawa Barat

Jakarta – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Permintaan ini disampaikan dalam kegiatan fasilitasi Rancangan Peraturan Gubernur mengenai RKPD Jawa Barat Tahun 2027 yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri pada Rabu, 10 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, Direktur Perencanaan, Evaluasi, dan Informasi Pembangunan Daerah (PEIPD) Kemendagri, Iwan Kurniawan, menekankan bahwa fasilitasi RKPD bukan hanya sekadar memenuhi tahapan administratif, tetapi merupakan instrumen vital untuk memastikan bahwa dokumen perencanaan daerah sejalan dengan kebijakan nasional, target pembangunan, serta kebutuhan riil masyarakat.
Pentingnya Kualitas Perencanaan RKPD
RKPD yang baik harus dapat menjawab kebutuhan pembangunan secara terukur dan berkelanjutan. Iwan Kurniawan menjelaskan bahwa perencanaan yang efektif akan menjadi pedoman bagi berbagai aktivitas pembangunan di daerah. Dalam acara yang berlangsung secara hybrid di Ruang Praja Bhakti Utama, Jakarta ini, Iwan menekankan bahwa RKPD perlu diintegrasikan dengan Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD). Sistem ini berperan penting dalam menjaga konsistensi dokumen perencanaan, memperkuat sinkronisasi kebijakan, serta meningkatkan efektivitas proses fasilitasi.
Evaluasi RKPD Tahun Sebelumnya
Sebagai bagian dari fasilitasi, Kemendagri juga mempresentasikan hasil evaluasi RKPD Jawa Barat Tahun 2025 melalui aplikasi e-Dalev SIPD. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa realisasi keuangan mencapai angka 89,12 persen. Selain itu, capaian kinerja program berada di angka 44,74 persen, dan capaian kinerja subkegiatan mencapai 85,69 persen. Meskipun pelaksanaan anggaran menunjukkan hasil yang cukup baik, Iwan mengingatkan pentingnya pemerintah daerah untuk memiliki orientasi pembangunan yang berbasis pada hasil.
- Realisasi keuangan RKPD 2025: 89,12%
- Capaian kinerja program: 44,74%
- Capaian kinerja subkegiatan: 85,69%
Orientasi Pembangunan Berbasis Hasil
Iwan Kurniawan menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya dapat diukur dari tingkat penyerapan anggaran. Lebih dari itu, dampak yang dirasakan oleh masyarakat harus menjadi indikator utama. “Program-program pembangunan yang direncanakan harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan mendukung pencapaian sasaran pembangunan daerah,” ujarnya. Dalam konteks ini, RKPD berperan penting sebagai dokumen strategis yang mendasari penyusunan rencana kerja perangkat daerah, dasar pengendalian kinerja, hingga acuan penyusunan anggaran.
Percepatan Penyempurnaan RKPD 2027
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat didorong untuk mempercepat penyempurnaan dan penetapan RKPD Tahun 2027. Hal ini penting agar tahapan penganggaran dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Kemendagri juga mengingatkan bahwa penyusunan RKPD harus berlandaskan pada ketentuan yang berlaku di tingkat nasional. Ini termasuk arah kebijakan dalam Rancangan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2027 dan hasil dari Rakortekrenbang Tahun 2026.
Integrasi dengan Program Strategis Nasional
Dokumen perencanaan daerah juga harus mengakomodasi Program Strategis Nasional yang relevan, sembari tetap mempertimbangkan karakteristik wilayah serta target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Barat 2025–2029. Berbagai masukan dari kementerian, lembaga, dan unit teknis Kemendagri terkait substansi urusan pemerintahan dan kebijakan sektoral diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan dokumen RKPD tersebut.
Peran dan Fungsi RKPD dalam Pembangunan Daerah
RKPD memiliki peran yang sangat strategis dalam sistem perencanaan daerah. Dokumen ini berfungsi sebagai pedoman dalam penyusunan rencana kerja perangkat daerah, serta menjadi dasar untuk pengendalian kinerja dan acuan dalam penyusunan anggaran. RKPD juga bertindak sebagai alat ukur kinerja kepala daerah, sehingga perlu disusun secara cermat dan akurat.
Persiapan dan Tantangan dalam Penyusunan RKPD 2027
Dalam persiapan penyusunan RKPD 2027, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Salah satu tantangan utama adalah mengintegrasikan berbagai masukan dan prioritas pembangunan dari berbagai pihak. Hal ini meliputi masukan dari masyarakat, sektor swasta, serta lembaga pemerintah lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama yang baik antara semua pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa RKPD yang dihasilkan dapat memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat.
Membina Komunikasi yang Efektif
Untuk mencapai tujuan ini, komunikasi yang efektif menjadi kunci. Pemerintah daerah perlu membangun saluran komunikasi yang transparan dan akuntabel dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat. Ini dapat dilakukan melalui forum diskusi, konsultasi publik, dan mekanisme partisipatif lainnya. Dengan pendekatan ini, diharapkan masyarakat dapat terlibat aktif dalam proses perencanaan dan memberikan masukan yang konstruktif.
Implementasi dan Pengawasan RKPD
Setelah RKPD disusun dan ditetapkan, tahap selanjutnya adalah implementasi dan pengawasan. Penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan bahwa setiap program dan kegiatan yang direncanakan dalam RKPD dapat terlaksana dengan baik. Pengawasan yang ketat diperlukan untuk menghindari penyimpangan dan memastikan bahwa anggaran yang dialokasikan digunakan secara efektif dan efisien.
Evaluasi Berkala untuk Meningkatkan Kualitas
Selain itu, evaluasi berkala terhadap pelaksanaan RKPD juga sangat penting. Melalui evaluasi ini, pemerintah daerah dapat menilai sejauh mana program yang dijalankan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dari hasil evaluasi tersebut, pemerintah dapat melakukan penyesuaian dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan RKPD di masa mendatang.
Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Pembangunan yang Lebih Baik
Peningkatan kualitas perencanaan RKPD Tahun 2027 di Jawa Barat adalah langkah strategis yang harus diambil oleh pemerintah daerah. Dengan memperkuat orientasi pada hasil dan dampak pembangunan, diharapkan program-program yang dihasilkan dapat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Melalui kolaborasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholders lainnya, masa depan pembangunan di Jawa Barat dapat lebih cerah dan berkelanjutan.


